Search This Blog

Showing posts with label contoh skripsi pendidikan PKN. Show all posts
Showing posts with label contoh skripsi pendidikan PKN. Show all posts

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN UPAYA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI PATRIOTISME MELALUI PENANAMAN SEMANGAT DAN JIWA NASIONALISME SISWA

(KODE : PEND-PKN-0020) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN UPAYA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI PATRIOTISME MELALUI PENANAMAN SEMANGAT DAN JIWA NASIONALISME SISWA

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi, seluruh aspek kehidupan bangsa terguncang dahsyat hingga daya adaptif kita sebagai suatu bangsa dalam suatu sistem sangat terpengaruh oleh perubahan, perubahan yang sangat cepat. Dalam dunia pendidikan, proses akulturasi dan perubahan perilaku bangsa mau tidak mau kita terdorong menjadi masyarakat yang memasuki complex adaptive system. Kita merasakan krisis multidimensional melanda kita, dibidang politik, ekonomi, hukum, nilai kesatuan dan keakraban bangsa menjadi longgar, nilai-nilai agama, budaya dan ideologi terasa kurang diperhatikan, terasa pula pembangunan material dan spiritual bangsa tersendat, discontinue, unilinear, dan unpredictable. Dalam keadaan seperti sekarang ini sering tampak perilaku masyarakat menjadi lebih korup bagi yang punya kesempatan, bagi rakyat awam dan rapuh tampak beringas dan mendemonstrasikan sikap anti sosial, anti kemapanan dan kontraproduktif serta goyah dalam keseimbangan ratio dan emosinya.(Sumantri, 2012 : 1) Banyaknya permasalahan tersebut salah satu penyebabnya adalah menurunnya sikap patriotisme dan nasionalisme masyarakat Indonesia khususnya para remaja atau pelajar.
Remaja merupakan usia atau tahap seseorang mencari jati diri yang dilakukan melalui peniruan diri atau imitasi, pergaulan remaja yang tanpa arah dan pengawasan terhadap tingkah laku mereka akan mempunyai kecenderungan mengarah pergaulan remaja yang negatif. Di sisi lain kondisi pelajar sebagai generasi muda belum menunjukkan peran yang semestinya. Keikutsertaan pelajar dalam memperbaiki bangsa dengan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila salah satu nya adalah sikap patriotisme dan nasionalisme belum terlihat. Gambaran kondisi pelajar justru ikut mewarnai permasalahan bangsa dengan melakukan tindakan seperti tawuran, bolos sekolah, tidak khidmat dalam mengikuti upacara bendera, pada saat penghormatan umum kepada bendera merah putih banyak siswa-siswi yang bersikap tidak sewajarnya, sikap berdiri dan sikap hormat seenaknya (Yudiantari, 2012 : 3) dsb. Namun dibalik hal tersebut pelajar merupakan tulang punggung penerus perjuangan bangsa yang cerdas, berilmu, kreatif, kritis yang semuanya itu diperoleh dari sekolah.
Patriotisme merupakan nilai operasional empat lima yang lahir dan berkembang dalam perjuangan bangsa Indonesia selama ini dan merupakan dasar yang pokok dan daya dorong mental spiritual yang kuat dalam setiap tahap perjuangan bangsa (Dewan Harian Nasional Angkatan Empat Lima, 1989 : 10). Patriotisme Indonesia yang tumbuh seiring dengan perjuangan dalam merebut kemerdekaan, tentunya perlu senantiasa dipupuk dan dipelihara dari generasi ke generasi dalam upaya mempertahankan dan mengamankan semua hasil yang telah tercapai dalam perjuangan sebelumnya. Pemupukan dan pemeliharaan itulah yang disebut pewarisan.
Patriotisme merupakan suatu nilai yang sangat penting dimiliki oleh setiap warga negara. Hal ini karena setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam negara. Sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal 27 ayat (1) UUD 1945, yaitu bahwa, "segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak kecualinya". Pasal ini menunjukkan adanya kesinambungan antara hak dan kewajiban, dan tidak ada diskriminasi antara warga negara, baik mengenai hak dan kewajibannya. (Kansil dalam Sumantri, 2008 : 74)
Sekolah adalah lingkungan pendidikan yang dijadikan tempat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan pelajar. Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Tujuan dari pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).
Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, merupakan kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian (jati diri) serta didik yang memiliki identitas (cara khas, tanda khusus) dan integritas (keutuhan dan kedewasaan). Sistematis yang berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan, sistemik yaitu berlangsung secara terpadu antara pendidikan keluarga, masyarakat dan sekolah, antara pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik, antara jiwa dan raga, jasmani dan rohani, nafsu dan pengendalian (susila, bermoral dan religius), individu dan sosial, mandiri dan makhluk ciptaan Tuhan (tergantung). Bagi yang belum dewasa, pembentukan pribadi dilaksanakan oleh pendidik (yang sudah dewasa), sedang bagi yang sudah dewasa pembentukan pribadi dilakukan oleh dirinya sendiri dan berlangsung sepanjang hayat, sepanjang hidup, sepanjang raga (Life Long Education). Pembentukan pribadi mencakup cipta, rasa, karsa dan karya (kognitif, afektif dan psikomotorik). Pembentukan pribadi sejalan sesuai dengan tingkat pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, mengikuti tingkat usianya, sebagai proses adaptasi dengan diri sendiri, lingkungan dan kehendak Tuhan. (Kusdaryani, 2009 : 16)
Tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan peserta didik yang unggul dari sisi kognitifnya (pembentukan pola fikir) saja melainkan juga afektif (pembentukan sikap) dan psikomotorik (pembentukan ketrampilan). Sisi afektif dan psikomotorik dapat diterapkan di sekolah dengan cara salah satunya adalah kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah. (Aqib, 2011 : 68)
Jenis kegiatan ekstrakurikuler sangat banyak sekali antara lain pramuka, pecinta alam, PMR, PASKIBRA, KIR, dsb. Kegiatan ini dapat dijadikan sarana oleh pelajar untuk membentuk sikap pelajar yang sesuai dengan nilai-nilai patriotisme yaitu ulet, tangguh, tegar, cinta tanah air, bela negara, rela berkorban dsb. Selain itu ekstrakurikuler juga dapat dijadikan sarana pelajar untuk mengembangkan bakat.
Terkikisnya nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme sekarang ini juga melanda anak didik di SMK X. Contoh nyatanya saja, ketika dilaksanakan upacara bendera para siswa merasa malas dan tidak melaksanakannya dengan khidmat dan tertib. Apabila mereka sadar dan paham bagaimana perjuangan pahlawan ketika merebut negara Indonesia dari tangan penjajah maka mereka akan mengikuti upacara dengan baik atas dorongan dalam dirinya bukan karena takut dihukum guru. Di samping itu, siswa sekarang ini lebih suka menggunakan bahasa yang tidak formal dalam kehidupan sehari-harinya dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap semangat dan jiwa nasionalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, perlu ditingkatkan secara terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada siswa salah satunya di SMK X yang merupakan generasi penerus bangsa sehingga bangsa ini bisa tercapai tujuannya.
Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "UPAYA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI PATRIOTISME MELALUI PENANAMAN SEMANGAT DAN JIWA NASIONALISME SISWA SMK X".

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE PEMBELAJARAN TALKING STICK BERBANTU MEDIA BENDERA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN PESERTA DIDIK KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0019) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE PEMBELAJARAN TALKING STICK BERBANTU MEDIA BENDERA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN PESERTA DIDIK KELAS IV

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menurut UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Namun hingga saat ini penerapan UU tersebut belum diterapkan pada kenyataannya, sebagian besar peserta didik merasa bosan oleh pembelajaran konvensional yang membatasi pendidik untuk mengeksplorasi potensi yang ada di dalam di dirinya, realita yang ada di lapangan, guru masih bertindak sebagai peran utama dalam pembelajaran dengan menjadikan peserta didik sebagai penerima informasi dari guru, akhirnya hasil lulusan peserta didik tidak sesuai yang di harapkan
Selain hal tersebut munculnya peristiwa sosial dan budaya yang terjadi di dunia pendidikan cukup menjadi pukulan yang memprihatinkan dalam dunia pendidikan dan masyarakat, tindakan kekerasan serta berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan pelajar misalnya tawuran antar pelajar itu menunjukan turunnya perilaku moral dan runtuhnya semangat budi pekerti, kedisiplinan tergambarkan dalam berbagai media masa baik elektronik maupun media cetak sehingga Kemendiknas menekankan pentingnya pendidikan karakter peserta didik dan juga karakter bangsa Indonesia melalui pendidikan karakter. untuk menuju bangsa Indonesia yang bermartabat.
Kondisi demikian dengan menurunnya kualitas pendidikan, pendidikan karakter peserta didik dan karakter bangsa harus bisa menjadi tantangan guru profesional untuk menumbuhkan kembali kualitas pendidikan juga pendidikan karakter peserta didik, Pembelajaran yang diterapkan guru secara inovasi dan kreasi diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, sistem pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan diharapkan merubah pembelajaran konvensional yang sering dilaksanakan guru.
Keadaan pembelajaran konvensional yang telah diuraikan terkesan kaku dan cenderung membosankan peserta didik, Guru menjadi peran utama yaitu menyampaikan informasi yang dibacanya dari buku sementara peserta didik hanya mendengarkan dan mencatat tanpa adanya interaksi dalam proses pembelajaran. Kondisi seperti ini sering terlihat di dalam proses pembelajaran di sekolah dasar khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, saat guru menyajikan materi PKn terlihat membosankan dan kurang menarik dan peserta didik memandang PKn sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Padahal pelajaran PKn mengajarkan tentang perilaku peserta didik sebagai warga negara.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Hal ini yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar PKn agar dengan cermat bisa menyampaikan tujuan sesuai dengan tujuan pembelajaran PKn bukan tugas yang mudah, tugas ini memerlukan kecermatan dari guru untuk merancang pembelajaran supaya berjalan dengan cukup baik, di sisi lain kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan kurikulum kurang berjalan dengan baik (KTSP, 2011).
Peneliti sebagai mahasiswa PGSD merasa tergerak untuk membantu guru dalam mengefektifkan pembelajaran PKn di sekolah dasar. Hal ini disebabkan perolehan hasil belajar peserta didik yang belum optimal berdasarkan wawancara yang sudah peneliti lakukan dengan guru kelas IVA dan Kelas VIB SDN X didapat bahwa perolehan hasil belajar PKn pada nilai rata-rata ulangan tengah semester 1 akhir bulan november kelas IV sebesar 65 padahal Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran PKn sebesar 70.
Dalam kenyataan sekarang ini pembelajaran PKn guru harus mempunyai kompetensi untuk mengajar PKn. Guru harus melakukan perubahan dalam pembelajaran dengan menggunakan atau memodifikasi metode pembelajaran inovasi. Metode pembelajaran merupakan komponen yang sangat berpengaruh di dalam proses pembelajaran yang menjadi salah satu faktor penentu berhasil atau tidak berhasilnya pembelajaran yang sudah dilaksanakan untuk tersampaikannya tujuan pembelajaran kepada peserta didik. Pada saat ini banyak berbagai metode inovasi pembelajaran yang bertujuan untuk menunjang proses pembelajaran agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Peneliti menggunakan pembelajaran Talking Stick berdasarkan kelebihan metode Talking Stick dan berdasarkan pada penelitian yang relevan yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Pembelajaran menggunakan metode Talking Stick hasil belajarnya meningkat. Kelebihan metode Talking Stick yang digunakan diharapkan peserta didik bisa mengikuti pembelajaran dengan baik dan peserta didik juga menikmati pembelajaran yang sedang dilaksanakan melalui bantuan media bendera gambar membuat peserta didik akan lebih tertarik dalam pembelajaran yang dilaksanakan sehingga tujuan pembelajaran dari guru akan tercapai dengan baik.
Penelitian yang relevan yang sudah dilakukan peneliti sebelumnya juga mendasari peneliti untuk menggunakan metode Talking Stick pada pembelajaran yang digunakan. Penelitian yang mendasari penelitian yang akan dilaksanakan peneliti melihat dari Penelitian yang dilakukan Purwaningtias mengenai Metode Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) penerapan metode pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu, (2) hasil belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan prestasi belajar. Metode pembelajaran Talking Stick juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Melalui pre test dan post test diperoleh hasil : (1) rata-rata skor test siswa pada siklus I adalah 68,28 dengan skor tertinggi 80 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 27 siswa, rata-rata skor post test meningkat menjadi 89,71 dengan skor tertinggi sebesar 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor > 70) sebanyak 33 siswa. (2) rata-rata skor pre test siswa pada siklus II adalah 80 dengan skor tertinggi 90 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 33 siswa, rata-rata skor post test siswa meningkat menjadi 86,57 dengan skor tertinggi 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 34 siswa.. (http://karya-ilmiah.um.ac.id).
Penelitian yang dilakukan Putri dengan judul Penggunaan Metode Pembelajaran Talking Stick dalam Meningkatkan Hasil Belajar PKn bagi Siswa Kelas VII-D di SMP Negeri 19 Malang menunjukan penelitian yang berhasil yakni : pada tahap siklus I penggunaan metode pembelajaran Talking Stick secara individu sedangkan pada siklus II menggunakan metode pembelajaran Talking Stick secara kelompok. Pada siklus I untuk mengetahui hasil belajar pada mata pelajaran PKn di kelas VII-D yaitu pada akhir pelajaran, peneliti memberikan post test dan siswa yang sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu berjumlah 10 orang (23,3%) sedangkan yang tidak memenuhi berjumlah 33 orang (76,7%). Hasil belajar pada penelitian siklus II secara kelompok sudah meningkat, yaitu dengan siswa yang memenuhi KKM berjumlah 42 orang sedangkan siswa yang tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) berjumlah 1 orang. Pada siklus II siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar dan percaya diri mencapai 71,4% atau 10 kelompok dari 14 kelompok yang menjawab pertanyaan sedangkan yang tidak menjawab yaitu dengan prosentase 28,5% atau berjumlah 4 kelompok. Hasil belajar pada siklus II sudah mengalami peningkatan yaitu dengan prosentase 48,1%. (http://karya-ilmiah.um.ac.id)

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH SISWA KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0018) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH SISWA KELAS IV

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Salah satu ruang lingkup mata pelajaran PKn adalah globalisasi, yang meliputi globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional dan mengevaluasi globalisasi (Permendiknas No. 22 Tahun 2006). Dalam buku PKn kelas IV SD pokok bahasan globalisasi ada tiga, yaitu pengaruh globalisasi, budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional dan menyikapi pengaruh globalisasi.
Tujuan pembelajaran PKn tentang budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional yaitu agar siswa mampu mengenal jenis-jenis budaya dan kesenian di Indonesia dengan baik, tidak hanya itu saja tetapi agar siswa mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan daerah masing-masing. Hal tersebut dilakukan agar kebudayaan tetap lestari dan berkembang sampai negara lain. Jangan sampai budaya dan kesenian kita direbut atau bahkan diakui oleh negara lain karena pengaruh globalisasi. Diharapkan siswa mampu memilih, memilah dan menyaring budaya luar yang tidak pantas masuk ke Indonesia.
Fakta yang peneliti temukan di lapangan, yaitu di SDN X bahwa hasil belajar PKn siswa kelas IV khususnya materi budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional masih dalam kategori rendah. Hal itu dapat dibuktikan dari dokumentasi hasil tes ulangan harian PKn siswa. Dari dokumen tersebut, dapat diketahui bahwa dari keseluruhan siswa kelas IV SDN X yang berjumlah 34 siswa, 2 siswa memperoleh nilai 40 (5,8 %), 4 siswa memperoleh nilai 45 (11,8), 6 siswa memperoleh nilai 50 (17,6), dan 4 siswa memperoleh nilai 60 (11,8). Jadi, sebanyak 16 siswa (47%) kelas IV SDN X tidak tuntas dalam pembelajaran PKn. KKM mata pelajaran PKn kelas IV SDN X adalah 67.
Hasil wawancara peneliti dengan guru kelas IV SDN X bahwa hasil belajar PKn siswa rendah karena siswa masih bingung dan belum mengerti tentang jenis budaya dan kesenian berbagai daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan beragamnya budaya dan kesenian yang ada di Indonesia. Bagi siswa yang kurang cerdas sangat sulit untuk memahami jenis-jenis budaya dan kesenian di Indonesia. Permasalahan lain yang dihadapi siswa dalam materi budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional yaitu kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran. Pembelajaran di kelas dirasa membosankan, jenuh dan tidak menyenangkan. Banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, ada yang berbicara sendiri, mengantuk, atau bahkan bermain-main dengan teman sebangkunya.
Setelah melakukan wawancara dengan guru kelas, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengamati proses pembelajaran guru kelas IV SDN X dalam mengajar mata pelajaran PKn. Ternyata, guru masih menerapkan pendekatan Teacher Center Learning yang artinya pembelajaran berpusat pada guru. Guru menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala pengetahuan dan informasi kepada siswa. Guru banyak berceramah di depan, menjelaskan semua materi kepada siswa tanpa dilengkapi dengan alat peraga dan media pembelajaran. Guru juga tidak melakukan diskusi kelompok yang seharusnya dilakukan agar pembelajaran tidak terkesan monoton dan menjenuhkan. Wajar jika banyak siswa yang kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik dan menyebabkan hasil belajar PKn-nya rendah.
Berdasarkan pada masalah di atas, maka diperlukan model pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan agar siswa lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran dan menghasilkan nilai yang bagus dalam setiap ulangan. Banyaknya ragam model pembelajaran PKn menuntut kejelian guru untuk dapat memilih model pembelajaran yang tepat sesuai materi dan karakteristik siswa. Salah satu model pembelajaran yang tepat digunakan dalam mata pelajaran PKn materi budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional yaitu model pembelajaran kooperatif tips Make a Match.
Model Make a Match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan model ini dimulai dari teknik yaitu siswa diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi skor/poin. Salah satu keunggulan model pembelajaran ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 
Penerapan metode Make a Match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu : berpusat pada siswa; mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran.
Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi guru dan siswa dalam mata pelajaran PKn materi budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional. Dari penerapan model tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang nantinya akan mempengaruhi hasil belajar siswa untuk dapat meningkat juga.
Penerapan model pembelajaran Make a Match dalam mata pelajaran PKn kelas IV pada kompetensi dasar mengidentifikasi budaya Indonesia yang pernah tampil dalam misi kebudayaan internasional sebelumnya pernah dilakukan oleh Aminah (2010). Penelitiannya menunjukkan bahwa model Make a Match ini dapat meningkatkan motivasi atau minat belajar dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karangharjo Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang.
Berpijak dari hal tersebut peneliti semakin optimis bahwa model pembelajaran Make a Match dirasa mampu merangsang motivasi belajar siswa. Hal itu mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang “PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH” siswa kelas IV SDN X khususnya pada materi budaya Indonesia dalam misi kebudayaan internasional.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW OLEH SINGLE PARENT AYAH

(KODE : PEND-PKN-0017) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW OLEH SINGLE PARENT AYAH

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. TKI perempuan sering kali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, tenaga kerja Indonesia adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah yang selanjutnya disebut dengan TKI.
Tujuan utama orang pergi ke luar negeri dan bekerja di sana tidak lain dan tidak bukan adalah demi untuk memperoleh penghasilan yang besar. Dengan penghasilannya yang besar itulah, maka orang berharap dapat memenuhi pelbagai kebutuhan hidupnya. Dan dengan iming-iming penghasilan yang besar itulah yang kemudian memicu orang untuk berbondong-bondong pergi bekerja keluar negeri, demi mengejar impiannya, merengkuh hidup enak dan berkecukupan.
Selain faktor penghasilan yang besar, faktor lainnya yang memicu berbondong-bondongnya orang pergi untuk bekerja keluar negeri adalah sulitnya mencari dan memperoleh pekerjaan yang ada di negerinya sendiri (Indonesia). Pelbagai lapangan pekerjaan yang ada di negeri ini rasanya seperti telah dijejali oleh ribuan atau bahkan jutaan orang, sehingga hal tersebut tidak memberikan kesempatan bagi generasi angkatan kerja berikutnya. Ketika ada salah satu atau beberapa lapangan pekerjaan dibuka, maka dengan segera orang akan berlomba-lomba memasukan surat lamaran pekerjaan, bersaing merebutkan pekerjaan tanpa peduli apakah pekerjaan itu sesuai dengan keahliannya atau tidak.
Begitu halnya dalam penelitian ini, kota kretek yang mempunyai pabrik-pabrik rokok yang mampu menyerap tenaga kerja tidak mempengaruhi para wanita-wanita di dukuh X untuk bekerja di pabrik. Hal ini karena letak dukuh X terpencil dan bahkan dekat dengan perbatasan Kabupaten Pati. Sehingga para wanita dukuh X lebih baik memilih menjadi TKW yang penghasilannya cukup untuk memenuhi keluarga mereka.
Kehidupan sehari-hari warga dukuh X sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Aktivitas sehari-harinya digunakan untuk pergi ke sawah. Pekerjaan sebagai petani ini sebagian besar dipegang oleh laki-laki. Para wanita Dukuh X sendiri tidak banyak yang terlibat dalam pekerjaan di sawah. Hanya ketika masa panen padi saja sebagian wanita dari ibu-ibu dan wanita yang sudah menikah ikut memanen padi baik itu dibayar oleh penyewa tenaga kerja maupun sistem imbal balik.
Wanita-wanita Dukuh X ini hanya ikut bekerja ketika masa panen padi datang. Selain itu, aktivitas kesehariannya adalah sebagai ibu rumah tangga biasa yang mengasuh anak dan menyiapkan makan untuk suami. Karena kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin kompleks wanita-wanita Dukuh X berinisiatif untuk merantau keluar negeri yaitu menjadi tenaga kerja Indonesia yang selanjutnya disebut tenaga kerja wanita (TKW). Hal ini dilakukan hanya untuk mencari tambahan penghasilan untuk keluarga mereka. Sebelumnya penghasilan keluarga yang hanya menunggu masa panen padi saja sekarang penghasilan keluarga dapat dibantu oleh sang istri yang menjadi TKW di luar negeri. Sehingga TKW akan menjadi pilihan satu-satunya wanita di dukuh X untuk membantu penghasilan keluarga.
Anak-anak yang setiap hari mendapatkan perhatian dari seorang ibu, kini mereka hanya mendapatkan perhatian dari seorang single parent ayah saja. Manfaat kedekatan orang tua sangat besar bagi anak, diantaranya menumbuhkan rasa percaya diri. Kedekatan orang tua pada anak juga akan memberikan rasa nyaman pada diri anak sehingga anak merasa menjadi individu yang selalu diperhatikan orang tuanya. Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga bagi orang lain.
Anak yang tumbuh dalam hubungan kasih sayang yang hangat, akan memiliki sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan sekitarnya. Perkembangan kepribadian dan perilaku anak, sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua membimbing dan mengasuh anak mereka. Peran ibu sangat penting, karena ibu lah yang mengandung selama 9 bulan, kemudian menyusui, serta menimang anak hingga seorang anak menjadi mandiri dan dewasa. Selain itu orang tua yang baik juga mengajarkan anak-anak mereka tentang etika, agama, dan pelajaran lain yang akan mengembangkan pola pikir dan perilaku anak ke arah yang baik.
Sebuah penelitian yang dilakukan beberapa peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kampus lain dengan judul "Children Health and Migrant Parents in Southeast Asia (CHAMPSEA)" atau dampak migrasi internasional terhadap keluarga dan anak migran. Hasil penelitian tersebut menyebutkan "Secara ekonomi, migrasi internasional berdampak positif terhadap keluarga migran, namun juga berdampak negatif khususnya terhadap kesehatan psikologis anak," ungkap tim peneliti Drs Sukamdi MSc serta Dr Anna Marie Wattie MA dalam acara diseminasi hasil penelitian CHAMPSEA di kantor Magister Studi Kebijakan (MSK) UGM, Yogyakarta. (dikutip dalam http://kliktki.com/news/content/anak-yang-ditinggal-ortu-jadi-tki-banyak-alami-Masalah-psikologis)
Demikian halnya melihat banyaknya jumlah wanita di Dukuh X ini yang menjadi TKW di luar negeri menyebabkan anak akan menjadi kurang akan perhatian dari ibu kandung mereka.
Menilik kehidupan keluarga TKW di Dukuh X tersebut, peneliti tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul "POLA ASUH ANAK TENAGA KERJA WANITA (TKW) OLEH SINGLE PARENT AYAH DI DUKUH X".

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PELAKSANAAN PENDIDIKAN NILAI KEBANGSAAN MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI SMPN X

(KODE : PEND-PKN-0016) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PELAKSANAAN PENDIDIKAN NILAI KEBANGSAAN MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI SMPN X

contoh skripsi pendidikan pkn
BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Derasnya arus globalisasi menyebabkan terkikisnya nilai-nilai kebangsaan. Anak-anak lebih menyukai dan bangga dengan budaya asing dari pada budaya asli bangsanya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan adanya rasa bangga yang lebih pada diri anak manakala menggunakan produk luar negeri, dibandingkan jika menggunakan produk bangsa sendiri. Selain daripada itu, lunturnya nilai-nilai kebangsaan pada anak-anak juga dapat dilihat dari kurangnya penghayatan siswa ketika upacara bendera, banyak sekali siswa yang tidak hafal lagu-lagu nasional maupun lagu daerah, tidak mengetahui pahlawan-pahlawan nasional, bahkan juga banyak siswa yang tidak hafal sila-sila pancasila. Selain itu, Karakter Bangsa Indonesia yang berorientasi pada adat ketimuran juga mulai pudar, dibuktikan dengan adanya kecenderungan sikap ketidakjujuran yang semakin membudaya, berkembangnya rasa tidak hormat kepada guru, orang tua, dan pemimpin, serta kurangnya sopan santun di kalangan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa rasa Nasionalisme sebagai pijakan teguh kepribadian bangsa telah hilang dan luntur seiring dengan perkembangan zaman.
Pada program Top Nine News Metro TV diberitakan bahwa dua sekolah berdasarkan agama yang tidak pernah melakukan upacara bendera bahkan melarang peserta didik untuk hormat bendera merah putih. Alasan dari kepala sekolah yaitu bahwa hormat bendera sama dengan musyrik. Hal ini menunjukkan bahwa rasa Nasionalisme atau kebangsaan sebagai pijakan teguh kepribadian bangsa telah hilang dan luntur seiring dengan perkembangan zaman.
Pendidikan dipilih sebagai alternatif utama pengembangan nilai kebangsaan, karena pendidikan merupakan sarana pembangunan bangsa. Melalui pendidikan diharapkan dapat terwujud peningkatan kualitas generasi muda bangsa yang mampu meminimalisasi penyebab berbagai permasalahan. Nilai-nilai kebangsaan sebagai nilai dasar atau nilai intrinsik adalah nilai yang lestari dan abadi. Nilai ini eksis baik di masa lampau, masa kini maupun masa depan dalam kehidupan bangsa. Nilai-nilai kebangsaan menjadi bintang pemandu atau penunjuk arah ke mana bangsa dan negara Indonesia harus menuju.
Walaupun nilai-nilai kebangsaan bersumber dari dan berakar pada budaya bangsa pada masa lampau, namun nilai-nilai praktisnya, yaitu nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia secara nyata, senantiasa diperbarui dan disesuaikan dengan konteks, kondisi dan situasi masyarakat yang terus menerus berubah. Oleh karenanya nilai-nilai kebangsaan yang menjadi ruh bangsa dan menyemangati bangsa tidak pernah usang. Hanya dengan pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan semacam itu dan dengan semangat kebangsaan yang kukuh tangguh, bangsa Indonesia akan mampu mempertahankan eksistensinya menghadapi berbagai tantangan zaman, menghadapi rongrongan ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan kita serta menghadapi gelombang budaya global. Tentu saja dengan menggunakan strategi, hal-hal yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan bangsa Indonesia akan diramu dan diracik menjadi unsur yang memperkuat budaya dan jati diri bangsa. Sedangkan yang bertentangan, berlawanan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan bangsa Indonesia dengan sendirinya akan ditepis dan ditolak.
Para Generasi muda sebagai pemegang estafet kepemimpinan bangsa belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Masalah ini merupakan suatu fakta yang tidak boleh diabaikan mengingat pentingnya Sikap Nasionalisme dalam memajukan Negara Indonesia. Ketika pemerintah begitu gencar menyampaikan tentang pendidikan nilai kebangsaan atau nasionalisme, maka pembinaan Pendidikan nilai kebangsaan melalui jalur pendidikan ini dirasakan tepat waktu, tepat fungsi, serta tepat sasaran. Terkait dengan penanaman nilai kebangsaan di era global sekarang ini salah satu lembaga formal yang ikut bertanggung jawab adalah satuan pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah nasionalisme. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.
Sekolah Menengah Pertama merupakan lembaga formal yang menjadi pondasi awal untuk jenjang sekolah di atasnya. Oleh Karena itu, pendidikan di Sekolah Menengah Pertama mempunyai peranan yang sangat vital dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme.
Upaya untuk menggalakkan kembali semangat kebangsaan atau nasionalisme melalui jalur pendidikan dapat ditempuh dengan melaksanakan pengintegrasian nilai-nilai kebangsaan dalam kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Strategi ini ditempuh dengan mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, kontinuitas serta mempertimbangkan tingkat perkembangan usia dan kejiwaan peserta didik.
Kegiatan Ekstrakurikuler yang selama ini telah diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Pertama adalah salah satu media potensial dalam rangka pembinaan nilai-nilai kebangsaan pada peserta didik. Terutama dalam pendidikan kepramukaan yang merupakan ekstrakurikuler wajib bagi siswa di Sekolah Menengah Pertama. Melalui kegiatan kepramukaan, diharapkan dapat menumbuh kembangkan rasa nasionalisme, rasa tanggung jawab sosial, kedisiplinan serta potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Pendidikan nilai kebangsaan membutuhkan suatu proses internalisasi nilai-nilai. Oleh Karena itu, pentingnya pengintegrasian melalui kegiatan pendidikan kepramukaan didasarkan pada asumsi bahwa untuk menanamkan nilai-nilai serta semangat kebangsaan harus disesuaikan dengan bakat, minat, dan kreativitas peserta didik dalam penciptaan suasana yang kondusif bagi berkembangnya potensi diri.
Mencermati hal ini, perlu pengutamaan pendidikan nilai kebangsaan sejak dini bagi setiap individu. Pendidikan nilai kebangsaan menjadi sebuah jalan keluar bagi proses perbaikan Bangsa dan Negara Indonesia. Situasi sosial yang ada menjadi alasan utama agar Pendidikan nilai kebangsaan segera digalakkan kembali dalam lembaga pendidikan. Permasalahan pendidikan pada Pendidikan nilai kebangsaan di Sekolah Menengah Pertama perlu segera dikaji, dan dicari alternatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah.
Selain kondisi SMPN X yang memengaruhi peneliti untuk memilih SMP ini sebagai lokasi penelitian karena dari pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa SMPN X merupakan sekolah yang sudah berupaya mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan khususnya melalui pendidikan kepramukaan.
Berangkat dari fenomena diatas, penulis ingin mengetahui lebih dalam tentang pelaksanaan Pendidikan Nilai Kebangsaan di sekolah yang dirumuskan dalam judul "PELAKSANAAN PENDIDIKAN NILAI KEBANGSAAN MELALUI KEGIATAN KEPRAMUKAAN DI SMPN X".

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL MAKE A MATCH BERBANTUAN METODE CERAMAH TERHADAP HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0015) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL MAKE A MATCH BERBANTUAN METODE CERAMAH TERHADAP HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS IV

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan. Akibat pengaruh tersebut pendidikan di Indonesia semakin mengalami kemajuan. Sehingga mutu pendidikan di Indonesia menjadi berkualitas. Hal ini tidak terlepas dari peran seorang guru dalam mengajar atau memberikan pembelajaran kepada siswa. Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan diperlukan adanya berbagai keterampilan mengajar. Menurut Indianti dan Sumardiyani (2011 : 19) Ada delapan keterampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, membuat variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi, mengelola kelas, mengajar kelompok kecil dan perorangan, serta keterampilan memberikan penguatan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar tersebut harus terintegrasi antara yang satu dengan yang lainnya sehingga akan terjadi proses pembelajaran yang baik. Keterampilan mengajar tersebut harus dapat dikuasai oleh guru dengan baik sehingga dalam proses pembelajaran menjadi efektif Tetapi kenyataan di lapangan masih ada guru yang belum menguasai keterampilan-keterampilan tersebut khususnya di SD Negeri X.
Menurut Kepala Sekolah SD Negeri X ada beberapa guru yang belum menguasai semua keterampilan-keterampilan tersebut. Khususnya guru kelas IV yang belum bisa menguasai keterampilan mengelola kelas dan menjelaskan dengan baik. Hal itu terlihat dari kondisi kelasnya yang selalu ramai pada saat pembelajaran.
Menurut beberapa siswa kelas IV SD Negeri X. Guru kelas IV dalam memberikan penjelasan kurang jelas, kurang menarik, serta kurangnya interaksi antara siswa dan guru. Penggunaan model pembelajaran yang masih konvensional yaitu metode ceramah tanpa ada variasi metode, tidak ada penggunaan media untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran, serta referensi yang kurang. Sehingga siswa menjadi kurang aktif, merasa bosan serta jenuh ketika pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa yang rendah terutama pada mata pelajaran yang bersifat hafalan seperti mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn rendah dikarenakan materi yang ada pada mata pelajaran tersebut terlalu banyak, sifatnya hafalan, anak tidak begitu senang dalam menghafal, serta cara guru yang kurang kreatif dalam memberikan materi tersebut kepada siswa. Dari beberapa mata pelajaran yang diajarkan di kelas IV SD Negeri X PKn merupakan salah satu pelajaran yang bermasalah karena hasil belajarnya rendah. Terlihat dari hasil ulangan tengah semester (UTS) yang diperoleh siswa. Dari 34 siswa hanya 14 siswa yang mencapai criteria ketuntasan minimal (KKM). Rata-rata siswa hanya mendapat nilai 60 sedangkan KKM nya 65. (Guru kelas IV SD X)
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang memuat bahasan tentang masalah kebangsaan, kewarganegaraan dalam hubungan nya dengan negara, demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan Masyarakat Madani yang dalam implementasinya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan demokratis dan humanis. (Rosyada, 2005 : 9). 
Dengan demikian maka PKn sangat penting diberikan kepada siswa sejak SD karena PKn merupakan pendidikan yang mengajarkan tentang negara, kewarganegaraan, kebangsaan dan HAM. Agar mereka memahami dan melaksanakannya sejak dini sehingga menjadi warganegara yang baik.
Menurut beberapa siswa kelas IV SD Negeri X PKn merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan karena materinya yang banyak dan merupakan pembelajaran hafalan. Berawal dari kondisi yang ada itulah, guru diharapkan dapat segera mengatasi masalah-masalah dalam pembelajaran. Supaya dampak dari masalah yang timbul itu tidak berlarut dan menjadi masalah yang berkepanjangan. Guru harus segera menciptakan inovasi-inovasi yang mampu mengintegrasikan proses pembelajaran PKn yang biasanya membosankan menjadi suatu pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Banyak alternatif yang bisa dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pembelajaran PKn. Salah satunya adalah dengan menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi dan inovatif dalam proses pembelajaran di kelas. Seperti model-model pembelajaran Kooperatif. karyawisata, simulasi, Teams Games Tournament, Number Head Together, Role Playing, dan Make a Match yang sesuai dengan pelajaran PKn. Dari semua model pembelajaran yang ada peneliti memilih model kooperatif tipe make a match dengan berbantuan metode ceramah karena model kooperatif tipe make a match ini sangat menyenangkan di dalam proses pembelajarannya, sehingga dapat membuat siswa lebih aktif, bertanggung jawab, kerja keras dan membuat siswa merasa membutuhkan orang lain ada di dalam kehidupannya. Model ini sangat sesuai dengan nilai-nilai di dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Di dalam proses pembelajarannya akan digunakan sebuah kartu-kartu yang berisi suatu topik atau bahasan mengenai materi tersebut. Kartu tersebut bisa berupa kartu soal dan kartu jawaban hal ini akan memudahkan siswa dalam mengingat materi yang diajarkan.
Dengan demikian, siswa lebih mudah mempelajari materi PKn dan pembelajaran PKn tidak membosankan, akhirnya siswa akan merasa tertarik dan termotivasi untuk belajar PKn sehingga hasil belajar PKn juga akan mengalami peningkatan, dengan adanya perubahan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang digunakan oleh guru untuk mengantisipasi permasalahan dalam pembelajaran PKn.
Berdasarkan uraian di atas maka siswa diharapkan akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam terhadap materi PKn. Sehingga hasil belajar siswa meningkat dan tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) TERHADAP HASIL BELAJAR PKN KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0014) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF NHT (NUMBERED HEADS TOGETHER) TERHADAP HASIL BELAJAR PKN KELAS IV

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan zaman yang semakin modern menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Peningkatan kwalitas sumber daya manusia merupakan pra syarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari kwalitas pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia melalui pengajaran.
Undang -Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertakwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Sejalan dengan hal tersebut, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945. 
Di Sekolah Dasar mata pelajaran PKn memiliki tujuan agar siswa dapat berpikir secara kritis dan kreatif, serta berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab. Pada masa ini, proses pembelajaran, salah satunya pembelajaran PKn, masih banyak ditemui seorang guru dalam mengajar hanya mengandalkan metode konvensional. Dengan guru hanya mengandalkan model konvensional, siswa menjadi tidak aktif dalam pembelajaran. 
Hal tersebut berpengaruh pada hasil belajar siswa. Maka dari itu, pada kegiatan pembelajaran guru perlu menerapkan strategi pengajaran yang tepat. Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik yang menjamin siswa mencapai tujuan. Dengan strategi yang tepat, hasil belajar siswa akan dapat meningkat.
Berdasarkan wawancara dengan guru kelas IV hasil belajar siswa kelas IV di SDN X pada mata pelajaran PKn rendah, setelah diadakan ulangan diketahui bahwa dari 32 siswa yang nilai ulangannya memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) hanya 5 siswa saja. Guru kelas IV menetapkan KKM untuk mata pelajaran PKn yaitu 65. Selain itu guru kelas juga menyampaikan jadwal mata pelajaran PKn pada jam terakhir. Berdasarkan permasalahan yang dijelaskan diatas, maka harus segera dilakukan tindakan agar permasalahan pembelajaran dapat terselesaikan. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat yaitu yang mampu melibatkan seluruh siswa dalam kegiatan pembelajaran, mampu menjalin kerjasama yang baik antar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh guru di SDN X guna untuk melihat pengaruh model atau metode pembelajaran terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa pada mata pelajaran PKn yaitu menggunakan metode pembelajaran kooperatif NHT (Numbered Heads Together).

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE PERMAINAN KUIS TIM BERBANTU CROSSWORD PUZZLE TERHADAP MINAT BELAJAR PKN PADA SISWA KELAS V

(KODE : PEND-PKN-0013) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE PERMAINAN KUIS TIM BERBANTU CROSSWORD PUZZLE TERHADAP MINAT BELAJAR PKN PADA SISWA KELAS V

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya. masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003). Pendidikan tidak bisa dijauhkan dari proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran tersebut harus melibatkan aktivitas siswa secara keseluruhan, dari aktivitas fisik sampai mental siswa.
Suatu proses pembelajaran yang dilakukan harus memberi dampak positif bagi siswa. Tujuan pembelajaran yaitu adanya perubahan perkembangan siswa secara utuh-menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Hamdani (2011 : 21), belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Proses pembelajaran harus dapat memberikan makna melalui pengalaman dan informasi yang berasal dari lingkungannya. Makna dibangun ketika guru memberikan permasalahan yang relevan dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Membangun makna tersebut, proses belajar mengajar harus berpusat pada siswa.
Proses pembelajaran merupakan implementasi dari kurikulum, maka pendidik (guru) dituntut dapat mengembangkan program pembelajaran secara baik. Proses pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dan murid yang memberikan hasil timbal-balik. Sekalipun program kegiatan pembelajaran sudah direncanakan sesuai dengan kurikulum, tidak sepenuhnya dapat diikuti siswa dengan baik. Kurikulum yang sudah disusun dengan baik, tidak menjamin minat siswa dalam mengikuti suatu proses pembelajaran. Banyak hal/sebab yang melatarbelakangi hal tersebut.
Hasil observasi lapangan di SDN X di kelas V, pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagian siswa kurang berminat dalam mengikuti pembelajaran. Hal tersebut dilihat dari siswa yang duduk di belakang bicara dengan teman sebangku, ada yang tiduran atau meletakkan kepala, ketika ditanya guru hanya sebagian siswa (terutama yang duduk di depan) yang menjawab pertanyaan guru, ada siswa yang enggan maju atau menjawab pertanyaan dari guru. Kurangnya semangat belajar siswa dikarenakan berbagai faktor yang melatarbelakangi. Faktor internal dan faktor eksternal, dan juga faktor lingkungan dapat mempengaruhinya. Faktor internal yang berasal dari diri siswa seperti sikap bawaan siswa yang malas, tingkat intelegensi, dan tidak mau belajar untuk bisa serta kurang percaya diri untuk bertanya kepada guru, kondisi fisik yang tidak sehat dapat juga menjadi penyebab kurangnya minat siswa untuk belajar. Faktor eksternal seperti materi pelajaran yang banyak, pengajaran guru kurang bervariasi, pengaruh teman-teman kelas. Faktor lingkungan dapat disebabkan oleh masalah keluarga, orang tua yang kurang peka terhadap perkembangan anak dan tidak tahu masalah yang dihadapi anak.
Didukung juga pernyataan dari guru kelas V yang menyatakan bahwa sebagian siswa kurang berminat saat pembelajaran PKn karena materinya banyak, susah dan tidak semua siswa dengan mudah memahami materi, siswa lebih tertarik pada mata pelajaran yang mudah seperti bahasa Indonesia terutama saat materi bercerita, IPA, dan matematika. Wawancara dengan beberapa siswa, mengatakan tidak terlalu suka terhadap pelajaran PKn, alasannya karena pelajaran tersebut susah dan materi banyak.
Rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran PKn dikarenakan mata pelajaran tersebut sulit bagi siswa. Hal ini dikarenakan berbagai penyebab, diantaranya materi pelajaran yang banyak dan kompleks, informasinya harus tepat dan benar, proses pembelajaran yang kurang menarik dan monoton, dan banyak menghafal materi. Pembelajaran PKn yang selama ini yang berlangsung hanya menekankan pada penyerapan materi yang banyak bukan menekankan prinsip-prinsip yang ada di dalamnya. Pembelajaran PKn dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan ketrampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi dan efektivitas dalam berpartisipasi. Kegiatan pembelajaran PKn di kelas yang perlu dipersiapkan yakni bekal pengetahuan materi pembelajaran dan metode atau pendekatan pembelajaran yang sesuai materi dan kebutuhan siswa.
Peneliti tergerak untuk melakukan sebuah penelitian tentang proses pembelajaran PKn dengan menggunakan sebuah metode, yaitu metode Permainan Kuis Tim berbantu Crossword Puzzle. Alasan pemilihan metode ini untuk mencoba menerapkan permainan dalam pembelajaran yang dapat menarik siswa untuk mengikutinya dan belum pernah digunakan di SDN X. Pendapat Zaini dkk (2007 : 56), kuis tim merupakan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan tanggung jawab belajar siswa dalam suasana yang menyenangkan. Menyisipkan permainan dalam pembelajaran bertujuan menciptakan pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan sesuai dengan kondisi yang terjadi dalam diri siswa. Permainan akan menjadi lebih menarik jika ada unsur persaingan atau perlombaan di dalamnya, sekaligus unsur yang menghibur.
Permainan kuis tim dapat mendorong semangat siswa untuk belajar dan bersaing dalam mendapatkan nilai terbaik. Permainan kuis tim mengandung unsur bersaing antara kelompok dalam menjawab pertanyaan untuk mengumpulkan poin tertinggi. Permainan kuis tim ini, guru membacakan kata kunci sesuai materi dan siswa akan menjawab pertanyaan sesuai kata kunci yang diberikan, hal tersebut dapat membantu siswa mengingat materi-materi pelajaran. Memberi Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan, mengundang minat dalam pembelajaran, serta melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR PKN KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0012) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR PKN KELAS IV

contoh skripsi pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pelaksanaan pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan. Pendidikan itu lebih menitik beratkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian, jadi mengandung pengertian yang lebih luas sedangkan latihan lebih menekankan pada pembentukan keterampilan (Hamalik, 2011 : 55). Menurut Undang- Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa : Pendidikan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (http://inherent-dikti.net/files/sisdiknas).
Belajar, perkembangan dan pendidikan merupakan hal yang menarik untuk di pelajari, ketiga gejala tersebut terkait dengan pembelajaran, belajar dilakukan oleh siswa sedangkan pendidikan merupakan kegiatan interaksi (Dimyati, 2009 : 5). Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010 : 2).
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. 
Mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran pengetahuan tentang kewarganegaraan serta moral dan perilaku bangsa, tetapi banyak siswa di Sekolah Dasar (SD) yang kurang memahami mata pelajaran tersebut. PKn juga berfungsi membantu generasi muda memperoleh pemahaman cita-cita nasional atau tujuan negara. Pembelajaran PKn tentang Globalisasi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan perkembangan teknologi berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil ilmu teknologi manusia.
Banyak siswa kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru, minat belajar siswa juga kurang sekali dalam belajar maka dari itu, rata-rata nilai sekolah siswa banyak dibawah rata-rata kelas. Berbagai latar belakang siswa, banyak dari orang tua siswa yang kurang memperhatikan pendidikan siswa, maka dari itu guru tidaklah mudah dalam mengemas suatu bahan pelajaran agar materi tersebut mampu diterima oleh siswa. Guru harus bisa memahami siswa agar lebih mudah dalam menyampaikan materi pembelajaran, karena siswa yang mau benar-benar mengikuti kegiatan belajar masih dikatakan sedikit, sebagian siswa malas mengikuti pelajaran dan kurang berminat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Realita di lapangan berdasarkan hasil observasi di SDN X telah menunjukkan bahwa selama ini pelaksanaan proses pembelajaran yang terjadi di SDN X banyak sekali masalah yang terjadi. Bermacam-macam tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru dan para orang tua, pada waktu proses pembelajaran berlangsung, kondisi kelas ramai, mereka sering bergurau, masih banyak siswa yang tidak memperhatikan saat guru menerangkan materi pembelajaran, bicara dengan temannya, hanya diam saat diberi pertanyaan, siswa cenderung pasif. Orang tua hanya mengandalkan belajar di sekolah saja dan tidak menyediakan fasilitas yang baik untuk siswa dengan les di rumah. Minat belajar siswa juga kurang karena tidak diperhatikan oleh orang tua, padahal pantauan orang tua sangat berpengaruh terhadap siswa tersebut. Akibatnya pada waktu proses pembelajaran berlangsung, kondisi kelas ramai, siswa sering bergurau, masih banyak yang tidak memperhatikan saat guru menerangkan materi pembelajaran.
Permasalahan yang terjadi di SDN X menurut guru kelas IV dalam proses pembelajaran metode yang digunakan kurang bervariasi, minat belajar siswa menjadi kurang sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Bermacam-macam tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru dan para orang tua, pada waktu proses pembelajaran berlangsung, kondisi kelas ramai, mereka sering bergurau, masih banyak siswa yang tidak memperhatikan saat guru menerangkan materi pembelajaran, bicara dengan temannya, hanya diam saat diberi pertanyaan, siswa cenderung pasif. Pada kenyataannya saat diadakan ulangan harian hasilnya jauh dad yang diharapkan, sebagian besar siswa masih banyak yang nilainya di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu di bawah 70. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh hanya 56,5 siswa yang mendapat nilai di atas KKM hanya 9 orang dari 20 siswa lainnya nilainya dibawah KKM dan yang mendapat nilai terendah adalah 49.
Supaya minat belajar siswa dapat meningkat dan hasil belajar siswa dapat mencapai nilai diatas KKM yang telah ditetapkan yaitu 70, dan tentunya agar siswa memperhatikan guru menerangkan senang, tidak cepat bosan, jenuh, selalu bersemangat, dalam pembelajaran maka peneliti menggunakan salah satu model pembelajaran kooperatif, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick. Penerapan model Pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik atau materi pelajaran selain itu juga membuat siswa bersemangat serta memperhatikan penjelasan dari guru, karena dalam pembelajaran Talking Stick masing-masing siswa dalam proses pembelajaran tidak jenuh karena model ini membuat siswa lebih menyenangkan saat belajar, tidak monoton karena dalam pembelajaran siswa juga bermain tetapi sambil belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick juga mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mencoba melakukan penelitian tentang KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE TALKING STICK TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS IV SDN X.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN POLA PEMBINAAN BUDI PEKERTI ANAK DI PANTI ASUHAN

(KODE : PEND-PKN-0011) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN POLA PEMBINAAN BUDI PEKERTI ANAK DI PANTI ASUHAN

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini di tengah-tengah masyarakat sedang berlangsung krisis dalam segala aspek kehidupan antara lain kemiskinan, kebodohan, kezaliman, penindasan, ketidakadilan, kemerosotan moral, meningkatnya tindak kriminal dan berbagai bentuk penyakit sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kenyataan yang dapat kita lihat saat ini, bahwa generasi muda yang menjadi tumpuan harapan bangsa sangat jauh dari sosok generasi dambaan, mulai dari perilaku siswa, mahasiswa sampai demonstrasi yang bersifat anarkis dan para buruh kerja yang menuntut dinaikkannya gaji serta tunjangan mereka.
Dalam kehidupan masyarakat, keluarga memiliki peran yang sangat besar karena keluarga mempunyai fungsi penting di dalam kelangsungan kehidupan bermasyarakat. Fungsi penting ini dapat dilihat pada peranan keluarga untuk melakukan sosialisasi yang bertujuan mendidik warga masyarakat (anak) agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Keluarga mempunyai peran penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mengenal niai-nilai kebudayaan dari anggota-anggotanya (keluarganya). 
Menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Supriyoko, 2000 : 6) pendidikan keluarga adalah tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial dan budi pekerti sebagai bekal hidup bermasyarakat. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang dilaksanakan dalam suatu keluarga. Pendidikan keluarga merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman seumur hidup. Pendidikan keluarga dapat memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral, dan aturan-aturan pergaulan, keterampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan.
Pendidikan moral dalam keluarga dapat menjadi basis awal pendidikan budi pekerti yang dapat melatih perbuatan, ucapan, dan cara pikir anak yang bersifat positif, dengan tujuan agar anak tetap berbuat baik dan tidak melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian bagi sesama. Dalam keluarga-keluarga yang harmonis, anak akan cenderung berperilaku positif dan sebaliknya dalam keluarga yang tidak harmonis (broken home), anak akan berperilaku negatif.
Masa yang penting dan paling kritis dalam pendidikan anak adalah tahun-tahun pertama dalam kehidupan anak (usia pra-sekolah) karena pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tidak mudah hilang atau berubah. Dari sini, anak diwariskan norma-norma atau aturan-aturan serta nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Anak dilatih untuk mengenal, menghargai serta mengikuti norma hidup masyarakat melalui kehidupan dalam keluarga. Disini keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat karena keluarga merupakan pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan masa depan anak.
Anak merupakan faktor penting dalam pembangunan bangsa dan negara karena anak merupakan generasi penerus perjuangan yang akan menghadapi tantangan masa depan. Anak adalah karunia Allah SWT yang tidak dapat dinilai dengan apapun dan dia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tuanya. Dalam Hadis Riwayat Bukhari Rasul SAW bersabda bahwa : 
"Tiap anak yang dilahirkan keadaannya masih suci (fitrah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)" (Bukhari dalam Ulwan, 2007 : 187).
Dalam hadis di atas menjelaskan betapa besar pengaruh pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya, orang tua bisa menentukan keadaan anaknya kelak di masa datang. Oleh karena itu, seharusnya para orang tua bersungguh-sungguh dan berhati-hati dalam mendidik anak. Orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar perilaku bagi anak-anaknya. sikap dan perilaku serta kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anak yang kemudian semua itu akan diresapi dan secara sadar atau tidak semua yang dilihat anak akan menjadi kebiasaan. hal ini disebabkan karena anak mengidentifikasikan diri pada orang tuanya sebelum mengadakan identifikasi dengan orang lain.
Pada masa sekarang ini, dapat kita lihat banyak orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, sehingga anak harus putus sekolah. Akibatnya kebodohan dan tindak kriminal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Anak yang tidak mampu sekolah ini muncul di jalanan menjadi pengemis, pengamen maupun pedagang asongan. Bahkan, banyak dari mereka menjadi pelaku tindak kriminal, mencopet, terlibat narkoba, mabuk-mabukan, pembunuhan dan perbuatan asusila lainnya.
Sebagai generasi penerus yang sedang berkembang, anak sangat membutuhkan pengarahan, perhatian dan pendamping dalam menjalani hidupnya agar tetap terarah pada jalur yang benar. Disini keutuhan keluarga sangat diperlukan karena kehadiran orang tua memungkinkan adanya rasa kebersamaan sehingga memudahkan orang tua untuk mewariskan nilai-nilai moral yang ditaati dalam berperilaku di masyarakat.
Keadaan tersebut diatas, akan berbeda bagi anak yang tidak mempunyai keluarga secara utuh atau disorganisasi keluarga seperti perceraian kedua orang tua, masalah ekonomi keluarga, meninggalnya salah satu atau kedua orang tua yang menyebabkan terputusnya interaksi sosial antara orang tua dan anak. Akibatnya, anak menjadi kurang mendapat perhatian dan pendidikan terabaikan.
Anak yang mempunyai orang tua lengkap akan merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Berbeda dengan anak yang kehilangan orang tua, mereka akan cenderung murung, merasa tidak ada yang memperhatikan dan merasa bahwa masa depannya tidak jelas. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk anak-anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka adalah dengan di masukkan ke dalam suatu lembaga sosial yaitu panti asuhan, guna membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mendidik, merawat, membimbing, dan mengarahkan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga.
Panti asuhan merupakan salah satu lembaga perlindungan anak yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap anak-anak sehingga anak dapat hidup dengan normal sesuai dengan usianya. Selain itu panti asuhan juga merupakan suatu lembaga pelayanan kesejahteraan sosial yang memberikan kesempatan pada anak telantar untuk dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Panti Asuhan X berdiri untuk meningkatkan kesejahteraan sosial anak yatim, piatu, dan yatim piatu dan menjadikan mereka anak yang sholih-sholihah. Anak yang di tampung dalam panti asuhan tersebut adalah anak yatim, piatu dan yatim piatu. Jumlah anak yang ada di panti asuhan ada 28 anak yang terdiri dari 22 putri dan 6 laki-laki yang semuanya di sekolahkan oleh pihak panti. Panti asuhan berfungsi sebagai lembaga sosial dimana dalam kehidupan sehari-hari anak asuh, dididik, dibimbing, diarahkan dan diberi kasih sayang sebagai keluarga pengganti bagi anak.
Panti Asuhan bertujuan memberikan pelayanan kesejahteraan kepada semua anak yang ada di panti dengan kebutuhan fisik, psikologi, mental dan keterampilan. Dalam hal ini pembinaan mental agama dan kepribadian merupakan salah satu pendidikan pokok bagi anak, karena dengan pembinaan agama dan kepribadian anak akan dapat membedakan sesuatu yang benar dan salah.
Salah satu bentuk pembinaan budi pekerti di panti, diharapkan anak dapat menjadi anggota masyarakat yang sholih-sholihah, berakhlak mulia, mampu hidup layak, disiplin dan mematuhi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka peneliti menyusun skripsi yang berjudul "POLA PEMBINAAN BUDI PEKERTI ANAK DI PANTI ASUHAN X".

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN UPAYA GURU PKN DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DI SMP

(KODE : PEND-PKN-0010) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN UPAYA GURU PKN DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DI SMP

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Secara sederhana korupsi dapat di artikan suap, atau suka menerima uang sogok, atau dengan kata lain menyelewengkan uang atau barang milik perusahaan atau negara. Kata korupsi tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia, hampir setiap hari dalam beberapa tahun terakhir, korupsi selalu menghiasi berbagai surat kabar di indonesia.
Dalam struktur pemerintah negara indonesia terdapat lembaga yang mengenai pemberantas korupsi yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun lembaga itu belum cukup maksimal membasmi tindak pidana korupsi di indonesia. Untuk itu perlu ada dukungan dari lembaga lain untuk memberantas atau mencegah terjadinya korupsi.
Negara indonesia, merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, baik yang ada di daratan maupun yang ada di lautan dan juga mempunyai keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya. Namun hal yang demikian tidak menjamin rakyatnya sejahtera. Pengalaman menunjukkan para pemimpin, pelaku usaha maupun legislator dan politisi di negara yang tidak amanah, mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan mengeruk sumber daya alam sehingga rakyat banyak menderita. Dari tahun ke tahun tidak heran jika tindak pidana korupsi menjadi topik utama baik di media masa maupun elektronik, karena korupsi masalah besar.
Korupsi telah menjadi problema yang serius bagi bangsa indonesia, indonesia yang dahulu di kenal sebagai negara yang terbaik dengan jujur dan berakhlak baik, tetapi semua itu dinodai oleh orang-orang korupsi bahkan Indonesia menjadi negara terkorupsi se Asia.
Korupsi merupakan akar dari banyak permasalahan seperti kebijakan yang salah, kemiskinan, pengangguran, disia-siakannya kekayaan alam yang melimpah dan pada akhirnya membuat negara kita menjadi terbelakang bila di bandingkan dengan negara-negara lain yang jauh lebih miskin sumber daya alam (Kwik Kian, 2006 : vii).
Undang-undang dan aturan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi telah disahkan pada dan diberlakukan oleh pemerintah. Pemerintah juga telah membentuk badan resmi negara dan pengesahan Undang-Undang Nomer 30 Tahun 2002 tentang KPK. Bahkan resmi negara mempunyai kewenangan luas meliputi : kewenangan pendidikan, penuntutan dengan tujuan meningkatkan daya guna hasil guna upaya pemberantasan korupsi (KPK, 2006; 6).
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar dan terancam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Munib, 2007 : 143).
Perbuatan korupsi adalah lebih mengarah pada kesadaran yang salah, salah satu yang efektif untuk menguraikan atau mencegah perbuatan korupsi adalah dengan menciptakan kesadaran sejak dini kepada warga negara untuk tidak melakukan perbuatan korupsi.
Pendidikan budi pekerti adalah salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran bagi warga negaranya agar tidak melakukan perbuatan korupsi. Pendidikan budi pekerti bisa di lakukan di sekolah-sekolah, pendidikan yang paling efektif di lakukan adalah di sekolah-sekolah, karena setiap tingkah laku peserta didik dapat di pantau guru selama masih dalam lingkup sekolah dan guru cukup waktu untuk memantau.
Karena sekolah adalah tempat yang rasa sangat efektif untuk menumbuhkan nilai-nilai moral yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila adalah dengan memberi pendidikan budi pekerti, sehingga peserta didik yang nantinya akan menjadi penerus bangsa di harapkan akan mempunyai keyakinan seseorang bertindak atas dasar pilihannya dan budi pekerti yang baik, seperti kejujuran bisa di percaya menghormati orang lain dan mengendalikan diri. Dengan adanya kesadaran tentang pentingnya berbuat jujur menghargai orang lain, mengendalikan diri serta menjaga kepercayaan orang lain.
Salah satu mata pelajaran di sekolah yang menanamkan aspek moral yang sesuai dengan nilai pancasila adalah Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter, yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Secara praktis penanaman nilai-nilai anti korupsi dalam pendidikan kewarganegaraan pada siswa bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku anti korupsi. Harapannya sebagai anggota masyarakat, siswa mampu menentukan nilai-nilai moral menjadi pegangan dalam memilih nilai yang sesuai dengan norma yang telah ada yang mencerminkan perilaku anti korupsi.
Di SMP Negeri X cara guru PKn dalam menanamkan nilai-nilai anti korupsi melalui metode ceramah, saat menyampaikan materi berlangsung guru memberikan suatu selingan cerita atau realita masalah yang berkaitan dengan materi sehingga siswa terpancing untuk berpikir dan berpendapat. Guru juga menggunakan metode diskusi hal ini diharapkan untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. Dalam hal ini juga menggunakan sumber dari buku paket, LKS dan surat kabar untuk menyampaikan materi.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V DALAM PEMBELAJARAN PKN

(KODE : PEND-PKN-0009) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V DALAM PEMBELAJARAN PKN

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia bagi kehidupan di masa mendatang. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menentukan mutu kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, dan negara dalam rangka mengatasi persoalan-persoalan dan tantangan kehidupan di masa kini dan masa yang akan datang.
UUD RI Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Melalui proses belajar mengajar diharapkan dapat mencapai tujuan dari pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan dapat dicapai jika siswa melibatkan dirinya secara aktif dalam kegiatan belajar baik fisik, mental maupun emosional. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan utamanya ditentukan oleh proses belajar mengajar yang dialami siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas diperlukan interaksi yang positif antara guru dengan siswa. Guru yang bertindak sebagai subjek pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Guru tidak hanya memberikan bimbingan, pengetahuan, pesan, nilai-nilai yang baik kepada siswa tetapi juga harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, yaitu dengan cara menyampaikan materi pembelajaran dengan metode/strategi yang bervariasi, dan tentunya melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Pendidikan kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang memuat bahasan tentang masalah kebangsaan, kewarganegaraan dalam hubungannya dengan negara, demokrasi, HAM, dan masyarakat madani yang dalam implementasinya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan demokratis dan humanis (Rosyada, 2005 : 9). Melalui mata pelajaran PKn di sekolah dasar diharapkan siswa dapat terbina menjadi warga negara Indonesia yang baik, demokratis, bertanggung jawab, serta cinta tanah air.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu guru kelas V SD Negeri X, ketika guru menerangkan materi keputusan bersama hanya beberapa siswa yang dapat menyerap materi tersebut, karena sebagian besar siswa belajar hanya di sekolah saja, kadang-kadang ada beberapa siswa yang berbicara sendiri saat guru menerangkan, siswa tidak aktif, dan kurangnya motivasi belajar dari orangtua. Faktor-faktor inilah yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa. Kenyataannya dapat dilihat dari 25 siswa dalam satu kelas yang sudah memenuhi ketuntasan belajar hanya 40% dan 60% siswa lainnya belum memenuhi ketuntasan belajar, sedangkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) di SD Negeri X untuk mata pelajaran PKn adalah 75.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan kurang tepatnya pemilihan model pembelajaran dalam menyampaikan materi. Pembelajaran yang biasa dilakukan masih konvensional, yakni ceramah, pembelajaran masih didominasi guru, tidak ada interaksi antara guru dengan siswa. Keadaan seperti itu menciptakan interaksi belajar yang sifatnya masih satu arah sehingga kurang bermakna. Hal ini terjadi karena proses pembelajaran yang diterapkan cenderung bersifat monoton tanpa adanya inovasi penggunaan strategi/metode pembelajaran dalam proses pembelajaran PKn di kelas, dan akibatnya siswa merasa bosan dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Sehingga dampaknya adalah hasil belajar PKn siswa kurang memuaskan dan tujuan pembelajaran kurang tercapai secara maksimal.
Masalah seperti tersebut di atas, perlu diberikan solusi agar tidak terjadi secara berkelanjutan. Guru harus menciptakan inovasi pembelajaran, memberikan variasi model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar. Banyak alternatif yang bisa dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada pembelajaran PKn. Salah satunya ialah dengan menerapkan model pembelajaran NHT.
Model pembelajaran NHT merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang cocok untuk menumbuhkan sikap kebersamaan siswa atau semangat kerjasama diantara siswa, sehingga mampu meningkatkan kemampuan siswa. Suprijono (2012 : 92) menyatakan bahwa model NHT diawali dengan numbering, yaitu guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Tiap-tiap orang dalam kelompok diberi nomor. Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok, kemudian memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok untuk menyatukan kepalanya "heads together" berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru. Langkah terakhir adalah guru memanggil siswa yang memiliki nomor sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua siswa dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih dalam, sehingga siswa dapat menemukan jawaban pengetahuan itu sebagai pengetahuan yang utuh.
Penerapan model NHT dalam pembelajaran diharapkan dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran, meningkatkan semangat siswa, meningkatkan kemampuan hubungan sosial, dan memberikan kesempatan siswa untuk menuangkan ide yang ia pikirkan sehingga hasil belajar siswa meningkat serta dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.

SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE RESITASI BERBANTUAN LKS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV

(KODE : PEND-PKN-0008) : SKRIPSI PENDIDIKAN PKN KEEFEKTIFAN METODE RESITASI BERBANTUAN LKS TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV

contoh skripsi pendidikan pkn

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 2 yang berisi pendidikan nasional berfungsi menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dan tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggungjawab (UU SISDIKNAS, 2009 : 111). Menjadi tugas guru dan orang tua untuk bertindak sebagai pengajar sekaligus menjadi pembimbing agar para siswa kelak menjadi manusia yang dapat diandalkan. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, diberlakukannya Wajar (Wajib Belajar) oleh pemerintah yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal 8 yang berbunyi setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Wajib belajar menjadi tanggung jawab Negara yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk menjamin mutu pendidikan dalam rangka mewujudkan wajib belajar, pemerintah menyusun kurikulum untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan. Struktur kurikulum di SD yang meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama 6 tahun mulai kelas I sampai kelas VI. Kurikulum SD memuat delapan mata pelajaran yang di dalamnya terdapat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, muatan lokal dan pengembangan diri.
Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Pendidikan kewarganegaraan dalam (Standar Isi dan SKL, 2006 : 105) adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pembelajaran hendaknya memberikan teladan sikap terbaik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sikap yang baik akan menghasilkan manusia yang berguna dalam memajukan bangsa dan negara dengan moral yang telah didapat dari pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Dalam Permendiknas 22 Tahun 2006 tentang standar isi Pendidikan Kewarganegaraan termasuk dalam kelompok mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A. Mata pelajaran kelompok ini dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. (UU SISDIKNAS, 2009 : 115). Oleh sebab itu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diberikan dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dengan tujuan agar siswa dapat menjadi warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, cerdas, sehat, berilmu, dan warga yang demokratis dan bertanggung jawab. Pada perkembangan zaman yang semakin seringnya masalah yang terjadi berkaitan dengan moral manusia, tidaklah mudah untuk membentuk siswa yang berkarakter sesuai harapan yang terdapat pada Pancasila dan UUD 1945. Sebab dengan hal tersebut perlu usaha dari orangtua dan guru untuk menerapkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang komplek. misalnya kegiatan di dalam keluarga yang berkaitan dengan ibadah terus dilakukan, menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak di setiap waktu. memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak jadi orang tua tidak hanya bisa memberikan nasehat tetapi juga memberikan tindakan nyata yang bisa diteladani oleh anak.
Setelah melakukan wawancara dengan guru kelas IV SD Negeri X diperoleh nilai rata-rata mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menunjukkan hasil belajar siswanya rendah. Hal ini dapat terlihat dari perolehan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan nilai rata-rata yang belum mencapai KKM, padahal KKM mata pelajaran di SD Negeri X adalah 62.
Faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah adalah sebagai berikut. (1) Siswa kurang antusias setiap pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan khususnya pada materi globalisasi. Penyebab utama hal tersebut adalah guru sebagai seorang motivator dan fasilitator untuk siswa di sekolah kurang memberikan perhatian pada siswa saat pembelajaran berlangsung sehingga siswa menjadi tidak berminat dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu pada waktu pembelajaran guru masih mendominasi dan belum melibatkan siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran. (2) Dalam menjelaskan materi, guru kurang bervariasi dalam menggunakan metode pembelajaran. (3) Penggunaan metode yang kurang variatif. Diharapkan guru tidak hanya menggunakan metode ceramah saja tetapi juga menerapkan metode yang lain juga. 
Dilihat dari perkembangan pendidikan yang semakin canggih, banyak diciptakan metode pembelajaran yang baru, sehingga pembelajaran tidak hanya menggunakan metode ceramah, diskusi, atau tanya jawab tetapi juga diciptakan metode-metode yang lain. Ada metode karyawisata, metode proyek, metode eksperimen, metode resitasi, metode demonstrasi dan metode-metode lainnya. Guru yang akan memberikan pelajaran hendaknya memilih metode yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Menggunakan metode yang tepat akan memberikan manfaat untuk siswa agar lebih mudah memahami materi. Setelah selesai memberikan materi, guru dapat memberikan tugas kepada siswa. Supaya materi yang disampaikan tidak lupa.
Guru harus memilih metode dengan sebaik-baiknya untuk diulang-ulang demi kemajuan siswanya. Penggunaan metode resitasi dalam pembelajaran agar tercipta kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. Tujuan memberikan tugas agar siswa, mampu bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, mampu mengerjakan tugas secara mandiri, siswa lebih aktif dalam setiap kegiatan belajarnya, siswa mampu menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar, dan siswa dapat memperoleh pengetahuan secara luas dan keterampilan yang dimiliki siswa lebih berkembang. Metode resitasi dikatakan sebagai metode pemberian tugas artinya suatu pekerjaan yang harus siswa selesaikan tanpa terikat dengan tempat.
Pelaksanaan metode resitasi ada tiga fase yaitu fase pemberian tugas, fase belajar, dan fase resitasi (Djamarah, 2010 : 236). Fase pemberian tugas, siswa diberikan tugas dengan arahan dan petunjuk dari guru supaya tugas yang akan dilaksanakan tidak membuat siswa bingung. Petunjuk tugas yang jelas akan membuat siswa lebih cepat menyelesaikannya. Tujuan diberikannya tugas untuk siswa diantaranya adalah agar belajar untuk menyelesaikan tugas secara mandiri, belajar untuk bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, dan agar siswa lebih memahami materi yang telah disampaikan. Fase belajar dilakukan siswa dengan sungguh-sungguh untuk mendapat hasil yang memuaskan. Siswa melaksanakan tugas yang telah diberikan guru dengan mencari informasi di buku atau sumber tugas yang telah diberikan.
Selain metode yang dipilih, ada hal lain yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar yaitu penggunaan alat bantu pembelajaran. Alat bantu yang digunakan guru dengan metode resitasi adalah LKS (lembar kerja siswa) merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran. LKS berisi kumpulan materi dan soal untuk siswa sebagai penunjang pembelajaran dan untuk mengembangkan kemampuan siswa (Hamdani, 2011 : 74). Dengan menggunakan LKS diharapkan siswa dapat mengembangkan pemahamannya. Adapun fungsi LKS di SD adalah antara lain : (a) untuk mengaktifkan siswa dengan kegiatan yang bermanfaat, (b) untuk merangsang siswa dalam memahami suatu materi, dan (c) untuk memberikan pendalaman materi pada siswa. Diupayakan agar para guru membuat sendiri LKS yang akan digunakan siswa, karena guru lebih mengerti karakteristik siswanya.
Dari permasalahan tersebut peneliti akan melakukan penelitian untuk mengetahui keefektifan metode resitasi berbantuan LKS terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi globalisasi kelas IV SD Negeri X. Oleh karena itu penelitian skripsi ini mengambil judul "KEEFEKTIFAN METODE RESITASI BERBANTUAN LKS TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS IV SD NEGERI X".